Tampilkan postingan dengan label Sejarah Peradaban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Peradaban. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 April 2013

Bantah adanya manusia liliput oleh Pihak Taman Nasional


Sejumlah media massa memberitakan adanya penemuan manusia kerdil atau makhluk liliput di kawasan hutan, Kabupaten Lampung Timur. Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Sri Andayani tegas membantah atas pemberitaan tersebut.

"Pemberitaan itu tidak benar dan tidak ada konfirmasi langsung kepada saya selaku kepala di sana," kata Sri di Bandarlampung, Rabu (10/4).

Setelah pihaknya melakukan pemantauan ulang dengan kamera pengawas (camera trap), menurut Sri, tidak ditemukan manusia kerdil. Tetapi yang tampak hanya manusia berambut gimbal seperti Suku Anak Dalam yang hanya mengenakan penutup badan seadanya.

"Kejadian itu bermula dari keluhan petugas tim patroli di TNWK yang mengaku kehilangan bekal bawaannya saat berpatroli di dalam hutan itu," terang Sri.

"Kami sedang menelusuri keberadaan sejumlah orang tersebut, apa motifnya sampai ada di dalam hutan ini, karena kami khawatir keberadaannya memang diutus oleh oknum tertentu, dan kami khawatir dapat mengganggu satwa liar langka dan dilindungi yang hidup dalam kawasan hutan ini," tandasnya.
Sumber: Merdeka.com

Rabu, 27 Maret 2013

Mumifikasi Berusia 2400 Tahun dihancurkan

Bertolak belakang dengan laporan yang ditulis sejarawan Yunani ternama, Herodotus, Mesir kuno kemungkinan tidak menyingkirkan usus mumi dengan minyak cedar dari anus, seperti yang ditemukan dalam penelitian terbaru mengenai mumifikasi. Para pembalsem kuno juga tidak selalu meninggalkan jantung si mumi pada tempatnya, menurut para penelitinya. Temuan itu, dipublikasikan dalam HOMO – Journal of Comparative Human Biology edisi Februari, dihasilkan setelah menganalisa 150 mumi dari peradaban kuno.

Sejarah mumi Di abad 5SM, Herodotus sang bapak sejarah dapat melihat proses mumifikasi Mesir. Pembalseman adalah bisnis yang sengit, dan trik pembalseman dijaga kerahasiaannya, kata salah seorang penulis penelitian Andrew Wade, antropolog di University of Western Ontario.

Herodotus menggambarkan beberapa tingkatan pembalseman: Kaum elit, menurutnya, dibedah perutnya dan organ dalamnya diambil, kata Wade. Untuk kelas yang lebih rendah, organ mumi dihancurkan dengan minyak cedar yang dimasukan dari anus, yang diduga sama dengan terpentin, seperti yang dinyatakan Herodotus. Sebagai tambahan, Herodotus menulis bahwa otak disingkirkan selama proses pembalseman dan catatan lainnya menyatakan bahwa jantung mumi tetap dibiarkan.
“Banyak catatannya terdengar menyerupai kisah turis, sehingga kami segan untuk menanggapi semua yang dikatakannya secara serius,” kata Wake kepada LiveScience.

Kisah mumi Untuk mengetahui apakah pembedahan untuk pengambilan organ tersebut benar-benar terjadi, Wade dan rekannya Andrew Nelson berpatokan pada catatan literatur, untuk mengetahui bagaimana 150 mumi dibalsem selama ribuan tahun di Mesir kuno. Mereka juga melakukan pemindaian CT dan rekonstruksi 3D pada tujuh mumi. Timnya menemukan bahwa orang kaya dan miskin pada umumnya dibedah perutnya, meski untuk kaum elit pembedahan untuk pengambilan organ terkadang dilakukan melalui pembedahan anus. Sebagai tambahan, tidak banyak petunjuk yang memperlihatkan penggunaan minyak cedar. Hanya seperempat mumi yang masih memiliki jantung. Pengambilan jantung tampaknya dilakukan bersamaan dengan masa transisi saat masyarakat kelas menengah memiliki akses untuk melakukan mumifikasi, jadi meninggalkan jantung bisa menjadi simbol status, seperti yang dikatakan Wade.
“Kaum elit memerlukan cara untuk membedakan diri mereka dari rakyatnya,” katanya.
Dan, meski Herodotus menyatakan bahwa otak mumi diambil dan dibuang, Wade dan rekannya menemukan bahwa sekitar seperlima otak mumi dibiarkan di dalam tengkorak. Hampir sebagian yang lain ditarik dari hidung, tim Wade menjelaskan hal itu dalam penelitian lainnya yang dipublikasikan di jurnal yang sama edisi Agustus 2011. Setelah isi tubuh dikeluarkan, tubuh dibaluri dengan antiseptik sederhana seperti tuak. Mumi-mumi itu juga dibaluri dengan paket natron, sejenis garam alami, lalu dibiarkan mengering selama beberapa hari, dan dibalut dengan kain linen atau serat kulit kayu, dan terkadang diberi wewangian, seperti yang dikatakan Wade.

Tradisi yang beragam Temuan itu memperlihatkan betapa beragamnya teknik pembalseman di peradaban kuno, kata David Hunt, seorang antropolog fisik di Smithsonian Institution di Washington, D.C.
“Banyak orang yang beranggapan bahwa proses pembalseman serupa, tapi apakah proses itu tetap sama selama 3.000 tahun? Tentu saja tidak,” kata Hunt kepada LiveScience. “Kita tahu bahwa orang-orang di Sudan tidak mengikuti pola pembalseman yang sama dengan orang-orang di Alexandria.

Minggu, 24 Maret 2013

Tujuh Keajaiban Dunia

Awal mula munculnya istilah keajaiban dunia itu sendiri berawal pada tahun 140 Sebelum Masehi. Dicetuskan pada sebuah puisi karya Antipater Sidon, Ia menuliskan struktur tempat-tempat yang indah dan mengagumkan di dunia, seakan semua hal itu adalah sebuah keajaiban. Baiklah inilah daftar 7 Keajaiban Dunia 

1. Tembok Besar Tiongkok (Tembok Besar China)
Tembok Besar Tiongkok atau yang juga dikenal dengan nama tembok besar China adalah sebuah tembok terpanjang yang pernah dibangun oleh manusia dalam sejarah perkembangan manusia hingga saat ini. Nama lain dari tembok ini adalah Tembok Sepanjang 10.000 Li (Wànlĭ Chángchéng). Menurut hasil penelitian pemerintah RRC sendiri tembok sepanjang 8.851 km tersebut dibangun pada masa pemerintahan dinasti ming.

2. Petra
Petra dalam bahasa Yunani berarti "Batu" dan dalam bahasa Arab : البتراء, al-Bitrā merupakan situs arkeologikal di Yordania. Petra sendiri terletak pada dataran rendah di antara pegunungan yang membentuk sayap timur Wadi Araba, yaitu lembah besar mulai dari Laut Mati sampai Teluk Aqaba.

3. Patung Kristus Penebus
Patung yang masuk keajaiban dunia ini memiliki tinggi 38 meter. Posisinya yang strategis berada di puncak dari Gunung Corcovado dengan ketinggian 710 m, Taman Nasional Hutan Tijuca. Dalam bahasa Portugis: Cristo Redentor adalah sebuah patung Yesus Kristus yang menampilkan gaya arsitektur Art Deco terbesar. Patung ini terletak di kota Rio de Janeiro, Brasil.

4. Machu Picchu
Machu Picchu juga dikenal dengan julukanya yaitu kota inca yang hilang. Salah satu keajaiban ini dibangun sekitar tahun 1450. Gaya bangunan Machu Picchu sangat mirip dengan gaya bangunan Inka kuno, berupa batu tembok berpelitur. Bangunan utamanya adalah Intihuatana, Kuil Matahari, dan Ruangan Tiga Jendela. Tempat-tempat tersebut dikenal sebagai tempat yang sakral.

5. Chichén Itzá
Chichén Itzá merupakan sebuah situs kuno peradaban suku Maya yang terkenal akan ramalanya. Situs ini terletak di Meksiko semenjak abad 800 SM. Bangunan Chichén Itzá didirikan oleh raja suku Toltec bernama Quetzalcoatl yang datang ke Semenanjung Yukatan bersama pasukannya. Kala itu suku Maya sudah bermukim di wilayah tersebut. Kemudian suku maya dan suku Toltec bersama-sama mulai membangun berbagai kuil yang menyerupai piramid. Dapat disimpulkan bahwa periode puncak dari Chichen Itza adalah gabungan dua kebudayaan, yaitu kebudayaan suku Toltec dan suku Maya. Situs ini, konon dianggap sebagai simbol pemujaan serta ilmu pengetahuan pada masanya.

6. Koloseum
Koloseum berada di kota Roma, Italia merupakan arena Gladiator pada masanya. Bangunan yang berukuran dengan tinggi 48 meter, panjang 188 meter, lebar 156 meter, serta memiliki luas seluruh area bangunanya sekitar 2.5 ha ini adalah sebuah karya besar bangsa romawi kuno. Dengan luas yang sedemikian rupa menjadikan tempat tersebut tempat yang megah untuk para penonton menyaksikan para Gladiator bertanding.

7. Taj Mahal
Taj Mahal merupakan diarsiteki oleh arsitektur mughal, pembuatanya memakan waktu selama 22 tahun dengan mempekerjakan 20.000 karyawan. Bangunan ini merupakan keinginan dari kaisar Mughal shah Jahan sebagai sebuah musoleum untuk istrinya yang berdarah Persia, bernama Arjumand Banu Begum juga dikenal sebagai Mumtaz-ul-Zamani atau Mumtaz Mahal. Bangunan megah ini terletak di Agra, India. Sekilas tampak bangunan tersebut berupa beton, namun jika disaksikan dari jarak dekat anda akan melihat jika bangunan ini diperindah dengan 43 jenis batu permata, diantaranya adalah berlian, jed, kristal, topaz dan nilam.

Sabtu, 23 Maret 2013

Arkeolog MARI Meneliti Situs Naga

Tim arkeolog Masyarakat Arkeologi Indonesia (MARI) tengah meneliti batu tulis bertatahkan gambar naga di Desa Jabranti, Kuningan, Jawa Barat. "Batu ini mungkin satu-satunya peninggalan berwujud naga di Jawa Barat," kata Arkeolog dari Universitas Indonesia, Ali Akbar, saat dihubungi melalui telepon, 15 Maret 2013.

Batu naga. Foto: Ali Akbar Batu tulis ini terletak di puncak Gunung Tilu, Dusun Banjaran, Desa Jabranti, Kecamatan Karangkencana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Penduduk sekitar telah lama mengetahui keberadaan batu ini, tapi tidak merasa berkepentingan untuk menilik keadaan situs yang terletak di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah ini. Situs ini hanya rutin dikunjungi oleh orang-orang yang bertapa maupun ngalap berkah, mencari pesugihan.

Batu tegak yang berpahat gambar naga tersebut diperkirakan merupakan peninggalan zaman prasejarah. Menurut Ali, batu tegak yang berasal dari batu utuh, sesuai batu aslinya tanpa dibentuk adalah ciri umum peninggalan prasejarah. Tapi, pahatan gambar dalam batu, apalagi bergambar naga, bukan merupakan ciri khas masyarakat prasejarah.

Jadi, dari masa apakah peninggalan ini berasal? Untuk menjawab pertanyaan tersebut Ali Akbar mempunyai sebuah dugaan. "Ada kemungkinan relief itu dipahat belakangan," kata dia. Susunan batu diperkirakan memang berasal dari masa prasejarah, pada periode tahun 500 SM. Belakangan, ukirannya dibuat oleh manusia dari masa yang berbeda. Ukiran naga diduga berasal dari masa Sunda Kuno di sekitar abad 14-15 masehi.

Peninggalan ini terdiri atas dua batu besar yang tersusun seperti gerbang, menyambut orang yang datang dari arah selatan. Menjelang dan setelah melewati "gerbang' ini, terdapat banyak batu besar berserakan. Kemungkinan besar terdapat pola tertentu pada susunan batu-batu ini. Sayang, pengamatan belum dapat dilakukan karena kondisi situs tertutup tumbuhan hutan.

"Ada batu bergores yang goresannya membentuk gambar-gambar yang bagus," kata Ali. Saat diperhatikan, gambar tersebut menyerupai bentuk naga. Ali menduga gambar tersebut adalah naga karena digambar setengah badan dan mempunyai jambul di kepala seperti layaknya naga.

"Naga yang terpahat ini sesuai dengan gambaran naga dalam budaya timur karena berwujud ceria," kata dia. Ali Akbar menjelaskan, ada dua macam bentuk naga yang dikenal dalam kebudayaan. Dalam kebudayaan timur, naga adalah lambang kebaikan, sedangkan dalam kebudayaan barat, naga adalah lambang kejahatan yang bengis dan jahat.

Jika gambar itu benar gambar naga, maka batu tulis ini adalah peninggalan pertama berbentuk naga yang ditemukan di Jawa Barat. Berbeda dengan daerah Jawa Timur yang kental pengaruh Hindu, bentuk naga tak pernah dikenal di daerah Jawa Barat.

Naga juga tidak dikenal dalam kebudayaan Sunda kuno. "Budaya Sunda lebih mengenal ular besar sebagai lambang kesuburan dan pembawa berkah," kata Ali. Gambar tersebut dapat juga dilihat sebagai ular besar yang bermahkota, sebab tak ada gambar kaki seperti yang biasa ditemukan pada perwujudan naga.

Pada salah satu batu juga terukir sosok manusia yang berambut gundul. Orang itu memegang ekor naga sambil menyandang senjata. Bentuk senjata tersebut serupa dengan motif yang ditemukan di Candi Sukuh, Jawa Tengah. Ciri ini memperkuat dugaan mengenai umur relief, yang diduga diukir pada masa SUnda Kuno, dimana Majapahit masih berjaya. Satu sisi batu ini diukir dengan gambar segitiga yang diduga perlambang gunung dan atap rumah. Dua orang digambarkan bercocok tanam, dengan pahatan yang lebih tipis dibanding sebelumnya. "Segitiga ini juga bisa dipakai untuk menggambarkan gunung yang meletus," kata dia.

Menurut penduduk setempat, di tempat setinggi 1300 meter di atas permukaan laut ini juga pernah ditemukan gentong gerabah yang terkubur di dalam tanah. Sayangnya keberadaan temuan itu kini tidak diketahui.

Mengacu pada letaknya di ketinggian, Ali Akbar menduga bahwa pada masa megalitikum tempat ini digunakan untuk tempat pemujaan arwah leluhur. Pada masa Sunda kuno, tempat ini berubah menjadi tempat para resi dan pendeta menyepi dan melepaskan diri dari agama Hindu dan Budha yang merupakan dua agama utama pada masa itu.

Dia menjelaskan bawah perjalanan menuju lokasi batu tulis itu tidak mudah. Butuh waktu berkendara selama enam jam dari Jakarta hingga tiba di Kuningan. Dari Kuningan, rombongan menuju Desa Banjaran, pemukiman terakhir di kaki gunung. Dari Desa Banjaran, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama tiga hingga lima jam melewati hutan dengan vegetasi lebat. "Banyak semak berduri dan pacet, tidak ada jalan," kata Ali.

Ekspedisi Naga Jabranti ini bermula dari laporan masyarakat di website MARI, organisasi yang bertujuan membumikan arkeologi kepada masyarakat luas. "Arkeolog harus curiga jika ada laporan masyarakat mengenai batu tulis atau benda keramat, karena kemungkinan itu adalah peninggalan arkeologi," kata Ali Akbar.

Penelitian masih akan dilanjutkan untuk menyingkap misteri seputar keberadaan batu ini. Tim arkeolog telah mengambil sampel tanah untuk diteliti di laboratorium. Selanjutnya, eskavasi akan dilakukan untuk melihat apa lagi yang dapat ditemukan di dalam tanah. Arkeolog juga berencana membuat cetakan batu sesuai bentuk aslinya agar peninggalan ini bisa dinikmati masyarakat luas. "Sebab lokasi aslinya sulit dicapai dan rawan longsor sehingga sulit dicapai," kata Ali.

Jumat, 22 Maret 2013

Inilah Kerangka Ikan terbesar di Laut

Untuk pertama kalinya, para ilmuwan mengatakan bahwa mereka telah menemukan kerangka paus di dasar laut dekat Antartika. Terletak hampir satu mil di bawah permukaan laut, kuburan tersebut dipenuhi dengan makhluk hidup aneh, termasuk sedikitnya sembilan spesies baru makhluk dasar laut yang kecil, menurut sebuah penelitian terbaru.

Meskipun paus secara alami tenggelam ke dasar laut ketika mereka mati, sangat jarang para ilmuwan menemukan tempat-tempat peristirahatan terakhir mereka, yang dikenal sebagai "kuburan paus." Menemukan salah satunya, biasanya membutuhkan kendaraan bawah laut yang dikendalikan dari jarak jauh dan sedikit keberuntungan.

"Pada saat ini, satu-satunya cara untuk menemukan kuburan paus adalah dengan menuju tempat tersebut menggunakan kendaraan bawah air," kata peneliti Jon Copley, dari University of Southampton di Inggris, dalam sebuah pernyataan. Tim ini tak sengaja menemukan persebaran tulang 10,7 meter milik paus Minke selatan saat mereka sedang mengeksplorasi kawah bawah laut di dekat South Sandwich Islands.

"Kami baru saja selesai menyelam dengan kendaraan Inggris yang dioperasikan dari jarak jauh, Isis, ketika kami melihat sederetan blok berwarna pucat di kejauhan, ternyata tulang paus di dasar laut," jelas Copley.

Ketika paus mati dan tenggelam ke dasar laut, bangkai mereka menyediakan tambahan gizi dan habitat bagi kehidupan dalam laut. Meskipun daging mereka akan terurai dalam beberapa pekan, tulang paus dapat bertahan sekitar 60 sampai 100 tahun. Bakteri dan makhluk aneh seperti cacing zombie, hewan tanpa mulut dan tanpa mata, makan dari kerangka itu.

"Hewan terbesar di planet juga merupakan bagian dari ekologi laut yang sangat dalam, menyediakan habitat yang kaya makanan dan tempat tinggal bagi hewan bawah laut selama bertahun-tahun setelah kematian mereka," ujar Diva Amon, peneliti lain dari University of Southampton. "Meneliti sisa-sisa paus Minke selatan tersebut memberikan wawasan tentang cara nutrisi didaur ulang di laut, yang secara global mungkin menjadi proses penting di lautan kita."

Kuburan paus Antartika, yang diperkirakan telah berada di dasar laut selama beberapa dekade, telah disurvei menggunakan kamera berdefinisi tinggi. Beberapa sampel dikumpulkan untuk dipelajari di darat. Tim mendapati beberapa spesies baru siput laut dan cacing-cacing yang hidup dari tulang tersebut. Salah satu contohnya adalah spesies baru isopod crustacea, mirip dengan kutu kayu, yang merangkak di atas kerangka itu, menurut pernyataan dari National Oceanography Centre Inggris.

Para peneliti juga menemukan spesies cacing zombie (Osedax) yang belum bisa dideskripsikan, yang bisa membantu para ilmuwan mempelajari bagaimana spesies misterius tersebut, secara mengejutkan, bisa memiliki beraneka ragam jenis dan tersebar luas. (Mereka telah ditemukan dalam kuburan paus di timur dan barat Pasifik serta Atlantik Utara.)

"Salah satu misteri besar yang masih tersisa dari biologi laut dalam adalah bagaimana invertebrata kecil bisa tersebar di antara habitat terisolasi yang disediakan bangkai paus di dasar laut," kata Adrian Glover, seorang peneliti di Natural History Museum di London, dalam sebuah pernyataan.

Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa strategi seks yang dilakukan cacing zombie adalah kunci keberhasilan mereka. Para betina dari spesies Osedax japonica dewasa dengan lebih cepat dan kemudian secara terus-menerus menghasilkan telur yang dibuahi para pejantan, menurut temuan para ilmuwan. Terlebih lagi, larva cacing zombie bisa berenang aktif selama setidaknya 10 hari sebelum menetap di tulang di dasar laut, menurut penelitian baru, yang dijelaskan secara rinci dalam jurnal Naturwissenschaften.

Kamis, 21 Maret 2013

Fakta tentang Mesir Kuno Rakyat Kerja Paksa

Meski para penguasa Mesir membangun piramida megah yang penuh harta berkilauan, masyarakat kelas bawah melakukan pekerjaan melelahkan dengan kondisi kelaparan. Sebuah analisis yang dilakukan terhadap lebih dari 150 kerangka dari sebuah pemakaman berusia 3.300 tahun di kota Mesir kuno, Armana, menemukan tulang yang patah karena mengangkat beban berat, dan gizi buruk yang merajalela di kalangan rakyat jelata kota tersebut. Penemuan tersebut, yang dirinci dalam jurnal “Antiquity” edisi Maret, bisa menjelaskan tentang kehidupan masyarakat golongan bawah di Mesir kuno. 

Kota yang berdiri singkat Selama 17 tahun, Mesir berpusat di Amarna, sebuah kota kecil di tepi sungai Nil, sekitar 350 km di selatan Kairo. Firaun Akhenaten mengalihkan ibu kotanya ke Amarna untuk sebuah kultus pemujaan murni dan tidak tercemar yang didedikasikan untuk dewa matahari, Aten. Dalam beberapa tahun, kuil, gedung-gedung pengadilan, dan kompleks perumahan bermunculan. Setelah itu, sekitar 20.000 sampai 30.000 penduduk yang terdiri atas para pejabat pengadilan, tentara, kuli bangunan, dan pelayan hidup di kota tersebut. Akan tetapi setelah kematian Akhenaten, firaun penggantinya, Tutankhamun, segera melancarkan eksperimen. Kota tersebut, yang tidak memiliki lahan pertanian yang baik, dengan cepat ditinggalkan. Oleh karena orang-orang Mesir menduduki Amarna dalam waktu yang singkat, kota tersebut memberikan wawasan baru kepada para arkeolog yang belum ada sebelumnya tentang kehidupan masyarakat pada masa tersebut, kata salah satu peneliti Anna Stevens, arkeolog di University of Cambridge. Kehidupan keras Sekitar 10 tahun yang lalu, seorang peneliti menyelidiki sebuah daerah gurun di dekat Amarna menemukan sebuah kuburan kuno. Situs tersebut berisi ratusan kerangka dan pecahan tulang dari warga Mesir kalangan bawah. Untuk melihat seperti apa kehidupan sehari-hari rakyat Mesir tersebut, Stevens dan rekan-rekannya menganalisis 159 kerangka yang sebagian besar ditemukan dalam keadaan utuh. Kesimpulan para peneliti: Kehidupan sangat keras di Amarna. 

Pertumbuhan anak-anak terhambat, dan banyak tulang keropos akibat kekurangan gizi, mungkin karena rakyat jelata hidup hanya dengan mengonsumsi roti dan bir, kata Steven kepada LiveScience. Lebih dari tiga perempat dari orang dewasa memiliki penyakit sendi yang membuat mereka semakin lemah, kemungkinan akibat mengangkut beban berat, dan sekitar dua pertiga dari orang dewasa mengalami setidaknya satu patah tulang. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan cepat Amarna mungkin sangat berat bagi rakyat jelata. Berdasarkan ukuran batu bata yang ditemukan di dekat rangka bangunan di sekitar situ, setiap pekerja diperkirakan membawa batu bata kapur seberat 70 kg dengan cara estafet. Mendirikan bangunan kota secepat itu membuat para pekerja berulang kali mengangkat beban berat tersebut. Hal tersebut bisa menyebabkan penyakit sendi seperti yang dialami kerangka yang ditemukan. Norma di Mesir? “Ini adalah sebuah studi yang luar biasa karena ini merupakan sebuah jumlah masyarakat yang besar dari sebuah situs terkenal, dan jasad yang kami temukan beradal dari kelas bawah,” kata Salima Ikram, seorang peneliti Mesir di American University di Cairo, yang tidak terlibat dalam penelitian itu. Namun karena, secara keseluruhan, para arkeolog menemukan sangat sedikit kuburan Mesir kuno tempat masyarakat kelas bawah dimakamkan, sangat mungkin bahwa kondisi melelahkan tersebut terjadi di seluruh kawasan Mesir pada masa itu, kata Stevens. Penelitian lain telah menemukan bahwa bahkan orang-orang Mesir kaya menderita penyakit dan kekurangan gizi, sering kali hidup hanya sampai usia 30-an.