Tampilkan postingan dengan label Seputar Karir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Karir. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 April 2013

Mengatasi Perasaan Dikucilkan di Kantor

Anda pasti pernah mengalami perasaan tidak mengenakkan ketika melihat teman-teman semua mengeposkan foto kegiatan menyenangkan mereka di Instagram, sementara Anda hanya duduk di sofa dan makan es krim. Yap, perasaan takut tidak dilibatkan. Rasa takut yang sama bisa lebih menyakitkan ketika menyerang kehidupan profesional kita. Anda tidak mau hanya melihat, sementara mereka mendapatkan kesempatan yang menarik, menangani proyek-proyek yang terbaik, dan membuat koneksi baru di tempat kerja.

Jika Anda khawatir tertinggal dalam beberapa proyek, dikucilkan dari rapat, atau tidak dilibatkan dari acara kantor pada umumnya, saatnya untuk bertindak. Ikuti lima langkah sederhana ini:

Jujurlah
Langkah pertama adalah mengkaji kemampuan dan posisi Anda. Apakah Anda benar-benar perlu dilibatkan dalam sebuah proyek yang sedang dipimpin oleh departemen lain? Apakah Anda benar-benar "dikucilkan," atau apakah Anda hanya dikeluarkan dari pertemuan yang memang khusus bagi staf senior? Ingatlah, di sebagian besar kantor, proyek berharga jatuh ke orang-orang yang sudah ada cukup lama untuk mengembangkan kemampuan mereka, dan bahwa tidak terlalu efektif untuk melibatkan setiap orang dalam setiap proyek kantor.

Memangnya kenapa kalau Anda dikucilkan dari hal-hal yang seharusnya menuntut keterlibatan Anda? Jujurlah dengan diri sendiri dan pertimbangkanlah apakah ada sesuatu dalam perilaku Anda yang membuat rekan kerja ragu untuk memasukkan Anda.

Jika Anda menghabiskan makan siang di meja Anda, dan bukannya bersosialisasi di ruang istirahat, teman-teman kantor mungkin tidak berpikir untuk menyertakan Anda ketika mereka sedang menyusun komite baru. Mungkin itu sesuatu yang sederhana, seperti fakta bahwa Anda anak baru, dan mereka tidak merasa sudah mengenal Anda dengan cukup baik untuk meminta bantuan.

Terlibatlah
Setelah mengidentifikasi alasan Anda dikucilkan, saatnya bertindak. Salah satu cara terbaik yang dapat Anda lakukan adalah menghabiskan lebih banyak waktu dengan rekan kerja. Ingatlah, semakin Anda mengenal teman kerja, mereka pun mengenal pekerjaan Anda, semakin mudah untuk meminta dilibatkan pada beberapa proyek. Buatlah upaya lebih keras untuk berbicara dengan orang-orang mengenai tugas mereka, makan siang dengan para kru, dan bekerja sangat keras di tim yang Anda terlibat di dalamnya.
Lebih baik lagi, tawarkan untuk mengerjakan tugas tertentu. Itu menunjukkan kepada rekan kerja bahwa Anda serius membantu dan memiliki kemampuan yang berguna. "Hei, saya akan senang bisa membantu rencana iklan terbaru. Jika kalian berkenan, saya bisa membawakan gambaran yang serupa dengan yang kita kerjakan tahun lalu." Cara seperti itu jauh lebih konkret ketimbang "Hei, email saya jika ada yang bisa saya bantu."

Jadilah orang yang sangat diperlukan
Ingin tahu cara terbaik untuk lebih sering dilibatkan dalam berbagai rapat dan proyek, terutama jika Anda orang baru dalam tim? Pastikan Anda memiliki sesuatu yang berharga untuk berkontribusi. Bisa berupa apa saja, mulai dari keterampilan tertentu (apakah Anda jenius dalam PowerPoint atau Anda jago menciptakan program komputer yang mudah digunakan?) sampai dengan kemampuan membuat catatan rinci dan pemikiran yang unik. Cari tahu apa kemampuan Anda yang bisa dimanfaatkan, dan biarkan bakat Anda bersinar.

Gigih
Jika Anda sudah mencoba taktik ini beberapa kali dan masih juga merasa dikucilkan, mungkin sudah saatnya mendekati atasan Anda. Dia bisa membantu memberikan proyek baru atau pastikan bahwa Anda terlibat dalam berbagai rapat dan komite, atau, di sisi lain, menjelaskan alasan Anda tidak dilibatkan pada proyek-proyek tertentu (misalnya, mungkin dia tidak ingin semua orang di timnya bekerja pada acara amal atau tidak beranggapan Anda tidak perlu menghabiskan waktu pada kampanye media sosial ketika orang lain telah mengerjakannya).

Tentu saja, sebelum menghadap bos dengan permintaan seperti itu, pastikan mengejar ketertinggalan pekerjaan dan unggul dalam pekerjaan Anda. Hal terakhir yang Anda ingin lakukan adalah menerima tanggung jawab baru, ketika proyek-proyek yang Anda tangani saat ini belum selesai.

Realistis
Jika Anda masih tetap merasa dikucilkan, mungkin sudah saatnya untuk memperhatikan baik-baik ketakutan Anda. Apakah Anda membiarkannya lepas kendali? Bagaimanapun juga, tidak mungkin ada seseorang yang bisa menjadi bagian dari setiap komite dan diundang ke setiap acara. Jika Anda melihat bahwa, secara keseluruhan, Anda adalah bagian dari kantor yang dinamis, mendapatkan kesempatan baru, dan memiliki pekerjaan berbeban penuh, biarkan kesempatan yang terlewatkan berlalu. Jika Anda terus mengkhawatirkan tentang apa yang tidak Anda lakukan, Anda mungkin akan mengabaikan pekerjaan yang seharusnya Anda tangani.

Jumat, 29 Maret 2013

Apa Profesi Anda Pengusaha atau Karyawan?

Ada dua pilihan profesi untuk sandaran hidup masa depan: menjadi karyawan atau berwirausaha. Bagaimana menentukan pilihan yang lebih tepat untuk kita? Konsultan Karir di Bina Sarana Informatika Heri Kuswara mengatakan, sejak kuliah di semester pertama mahasiswa harus sudah menentukan pilihan profesi: bekerja atau berwirausaha. Dilihat dari teori perjalanan karier, ujarnya, usia ideal mengambil keputusan profesi di bidang tertentu adalah 18 tahun. Keputusan inilah yang akan melatari bidang kompetensi yang akan didalami selama masa perkuliahan. Lebih lanjut ia menjelaskan, ada tiga tahapan penting dalam perjalanan karier seseorang. Pertama adalah tahapan karier fantasi untuk anak usia 0-12 tahun. Di usia ini, cita-cita anak cenderung berubah-ubah, sesuai situasi, kondisi, berdasarkan interaksi dan apa yang dia lihat. Kedua adalah tahap perencanaan karier tentatif yang terjadi di kisaran usia 12-18 tahun. Di tahap ini seseorang sudah mulai memilah-milah profesi. “Misalnya dia ingin menjadi wartawan, tetapi kemudian mempertimbangkan risiko pekerjaan tersebut. Setelah mempertimbangkannya, ia ganti memilih profesi lain,” jelasnya.

Ketiga adalah tahap karir realistis. Di usia 18 tahun, tepatnya pada semester awal kuliah, setiap mahasiswa harus memasuki tahapan karir realistis. Idealnya mereka tidak lagi memilah-milah, tapi sudah memilih profesi yang sesuai minat dan didukung kompetensi. Artinya bila dia memilih menjadi seorang akuntan, maka minat tersebut harus didukung latar belakang keilmuan di bidang akuntansi.

Jika pilihannya adalah menjadi karyawan di sebuah perusahaan, maka mahasiswa perlu memiliki perencanaan karier jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Misalnya:
- Perencanaan karir jangka pendek (0-2 tahun) harus ada target menguasai/memahami ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki atau didalami. - Jangka menengah (2-5 tahun) targetnya adalah mengasah kemampuan yang dimiliki. - Jangka panjang (5 tahun ke atas) targetnya adalah memiliki keahlian dan pengalaman di bidang tersebut.

Sebaliknya, jika ingin menjadi pebisnis atau berwirausaha, berikut yang mesti dipersiapkan:
1. Sejak awal kuliah, kita harus belajar belajar bagaimana membuat perencanaan bisnis (business plan) yang baik.
2. Harus banyak bergaul dan berinterakasi dengan orang-orang di dunia usaha. Tujuannya supaya bisa masuk ke lingkungan dunia usaha.
3. Harus banyak mencari inspirasi dari success story (kisah sukses) para wirausahawan.
4. Bisnis sifatnya fluktuatif, ada masa naik dan turun. Agar kita bisa tetap menikmati bisnis di tengah situasi yang fluktuatif, maka pilihlah bisnis yang diminati, disukai, menjadi hobi, dan kita memiliki kompetensi di bidang tersebut.

Senin, 25 Maret 2013

Kiat Berbisnis bersama sang Kekasih

Berbisnis bersama memang nggak melulu menghasilkan sesuatu yang menyenangkan, tapi untuk belajar berkomitmen, cara ini bisa dicoba. Kenapa nggak seindah yang dibayangkan, sih? Biasanya dalam bisnis, apalagi masih dalam tahap merintis, berbagai masalah sangat mungkin terjadi. Masalah yang paling kerap memicu timbulnya masalah lain adalah soal keuangan, hal ini diakui oleh Rakhma Sinseria, co-founder Coffee Toffee yang menjalankan bisnis bersama sang suami. “Permasalahan keuangan dalam bisnis bersama pasangan memang membuat perselisihan rawan terjadi, itu sudah umum,” jelas Rakhma. Psikolog Hedy Anggraheini dari UnityAreta Jayasri Jakarta pun membenarkan. “Ada kelebihan tersendiri memutuskan berbisnis dengan pasangan, misalnya, keuntungan yang didapat menjadi keuntungan bersama, tidak jatuh ke pihak lain. Waktu bersama pasangan juga lebih banyak sehingga hubungan dan komunikasi jadi lebih baik,” ungkapnya, “Sementara negatifnya, bila ada masalah atau kerugian, kedua belah pihak harus menanggung masalah tersebut, padahal unsur emosi dari masalah bisnis bisa terbawa ke dalam rumah tangga.” Jadi, apa yang harus dipersiapkan, diperhatikan, dan dilakukan agar hubungan percintaan dan bisnis bisa sama-sama sukses?

Komitmen & kepercayaan, nomor satu.
Heru Kurnianto Tjahjono—pakar SDM dari MM UMY—menjelaskan bahwa ada 5 hal yang harus ditanamkan saat berbisnis bersama orang lain, terutama pasangan, “Kita harus terbuka pada pengalaman orang, kesepakatan, perubahan, pada pasangan, dan terbuka terhadap tekanan yang dialami.” Fleksibilitas dan keterbukaan membuat masing-masing terus belajar membangun bisnis dengan matang, bukannya saling menggurui atau merasa paling mampu.

Lakukan segala hal berdua. Kami menjadi satu tim yang kompak,” Rakhma menimpali dengan bangga, “Kalau ada yang bertanya apakah Coffee Toffee bisa berjalan kalau nggak ada saya, jawabannya nggak. Sebaliknya, kalau tanpa Mas Odi juga nggak akan bisa seperti sekarang ini. Jadi, masing-masing punya kontribusi.” Ya, kesuksesan mereka sebagai partner hidup sekaligus rekan bisnis memang patut diacungi jempol. Bahkan, ketika gagal Rakhma mengaku nggak pernah menyesal dengan pilihannya ataupun kehilangan kepercayaan terhadap sang suami.

Pemilik Margaria Group yang berkecimpung di dunia kain batik, Dyah Suminar Zudianto, ikut berbagi pengalaman. Baginya, bisnis bersama pasangan harus didasari dengan komitmen, “Berbisnis ibarat berumah tangga, harus dikelola dengan porsi adil.” Dari sana, dengan sendirinya usaha dan hubungan berjalan mulus karena terorganisasi dengan baik, contohnya Margaria Group yang memiliki makin banyak toko dan pasar yang kian luas. Bekerja secara profesional….

Merancang bisnis dengan matang dan detail sangat penting, terutama apakah bisnis itu dipilih berdasarkan keputusan bersama,” lanjut Hedy. Hal ini nantinya menentukan passion dan kesungguhan masing-masing dalam bisnis ini. Hal yang juga harus dipikirkan adalah masalah pembagian hak dan kewajiban supaya nggak saling merasa berhak mengatur maupun memutuskan sesuatu tanpa persetujuan bersama. Walaupun kerja sama makin baik setelah Coffee Toffee kembali eksis, Rakhma juga tak memungkiri kalau perbedaan pendapat antara dirinya dan pasangan pasti terus terjadi. Hal ini karena masing-masing merasa berhak memimpin bisnis yang dibangun bersama. “Tapi, setelah dua tahun berjalan, kami akhirnya ngobrol serius berdua untuk menentukan mana yang jadi tanggung jawab dan hak masing-masing,” Rakhma menceritakan pembagian kerja antara dirinya dan pasangan, “Bagian depan, yang bertanggung jawab terhadap ekspansi, perkembangan bisnis, itu pasangan saya. Sedangkan saya memegang bagian belakang, menjaga bisnis tetap eksis. Semua bisnis pasti ingin bertumbuh dan berkembang. Nah, saya yang harus menguatkan pondasinya agar ketika berkembang makin kokoh berdiri.”

Menghidupi keluarga, baru kemudian menghidupi usaha.
“Pasangan dalam kondisi keuangan yang kurang menguntungkan memang sangat rawan bertengkar. Bersyukur kami nggak sempat mengalami yang begitu parah. Kalau ingin berbisnis dengan partner hidup, paling nggak yang harus diingat pertama adalah bisa menghidupi keluarga itu dulu agar hubungan tetap sehat, karena kalau bisnis nggak menghasilkan, hal-hal kecil bisa jadi sangat sensitif,” saran Rakhma. Masalah keuangan yang sensitif berpotensi menyebabkan masalah lain timbul, karenanya transparansi dibutuhkan di sini. Selain itu, sebaiknya keuangan pun dibuat terpisah. Alasannya?

Bukan atas dasar ketakutan salah satu pihak berbuat curang, maka kami menyarankan keuangan masing-masing dipisah. Pengaturan keuangan secara jelas, baik untuk keperluan operasional maupun laba, bisa membantu kita dan pasangan untuk lebih teliti dan bijak menggunakannya. Makin transparan pembagian keuangan dalam bisnis, akan makin baik karena masing-masing bisa saling mengingatkan bagaimana memakai uang dengan tepat, termasuk mengalokasikan dana untuk pengembangan bisnis, cadangan untuk keperluan darurat, sampai untuk keperluan berdua. Satu hal lagi, seperti yang Hedy ungkapkan, pemisahan keuangan menghindari kebangkrutan kedua pihak jika suatu saat bisnis merugi.

The power of communication….
Memutuskan membangun usaha sendiri berarti siap menyerahkan hampir 24 jam dalam sehari untuk fokus mengembangkan bisnis tersebut. Ini yang lantas membuat komunikasi antar-pasangan menjadi nggak lagi intens. Masing-masing sibuk dengan tanggung jawabnya dan hanya duduk bersama saat bertemu klien atau meeting rutin. Padahal, sebagai rekan bisnis sekaligus partner hidup, ada komunikasi bentuk lain yang mesti tetap dijaga.

“Ego memang sulit dikendalikan, tapi kalau mau bersikap profesional masing-masing juga harus siap menerima evaluasi, kritikan, untuk memperbaiki diri maupun sistem kerja sama,” jelas psikolog Nanda Dedi Sutomo dari klinik Pusura. Nah, untuk obrolan seserius itu, yang sangat mungkin menimbulkan ketegangan, juga paling pas dibicarakan saat santai. Pillow talk bisa menjadi salah satu cara menjaga keharmonisan dan kehangatan hubungan. Ada satu waktu di mana masing-masing secara rileks, santai, berbincang tentang segala hal, baik masalah rumah tangga maupun urusan bisnis yang sedang digeluti bersama. Daripada membahasnya saat makan siang atau meeting, cara ini lebih efektif untuk “menelurkan” ide baru, strategi pintar, sekaligus melepas beban dan uneg-uneg masing-masing. Inilah enaknya berbisnis bersama pasangan, obrolan bisa dibawa sampai ke ranjang!

"Ego memang sulit dikendalikan, tapi kalau mau bersikap profesional masing-masing juga harus siap menerima evaluasi, kritikan, untuk memperbaiki diri maupun sistem kerja sama."

Daripada menjalankan bisnis seorang diri dan menanggung semua sendiri, lebih baik susah-senang sepenanggungan bareng pasangan. Anggap pasangan sebagai mitra kerja sekaligus mitra ternyaman untuk belajar bersama menghadapi tantangan bisnis. Julia Peres yang juga terjun ke bisnis sekolah sepakbola Champion Soccer School bersama kekasihnya, Gaston Castano, pun merasakan hal itu. Berbisnis bareng pasangan dianggapnya sangat positif karena pertemuan mereka makin intens.

Sabtu, 16 Maret 2013

Sudah Siapkah anda Pensiun

Berakhirnya masa kerja, bisa karena keputusan sendiri yang memang sudah direncanakan atau memang sudah waktunya memasuki masa pensiun. Tapi bisa juga, kondisi tersebut dipahami sebagai perpindahan dari bekerja dengan menerima gaji tetap menjadi bekerja tanpa pendapatan tetap. Jika ini sudah menjadi pilihan untuk dipersiapkan, sebelum waktunya tiba mulailah menjalani hidup dengan anggaran terencana. Setidaknya satu-dua tahun sebelum pensiun dini. Siapkan (calon) sumber pendapatan. Dan jangan lupa: asuransi kesehatan.  
Untuk mengetahui kesiapan yang baik, jangan lupa melihat beberapa hal ini: 
1. Uji daya tahan pengeluaran 
Ketika masa kerja berakhir, tentu pendapatan yang diterima sebagai gaji rutin akan berakhir. Karena itu, perlu memiliki sensitivitas pengeluaran jangka panjang.
Cobalah buat rencana pengeluaran, kemudian ukur dengan potensi penerimaan yang akan diperoleh. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa tabungan tidak bobol oleh belanja di luar batas kemampuan finansial. Karena itu, penting membuat daftar, minimal belanja pokokyang pasti dan belanja tambahan yang bisa berubah-ubah. Mungkinkah tabungan dicairkan? Tentu saja. Sebab tabungan (bisa dalam bentuk investasi) disiapkan untuk menghadapi masa akhir berpendapatan rutin. Namun yang perlu diingat, jumlahnya jangan lebih dari 4 persen atau setara dengan 25 tahun hidup setelah pensiun.
Jangan lupa juga, ketika menghitung kepemilikan dana masa depan, disesuaikan pula dengan inflasi. Karena laju pertumbuhan harga ini akan menggerus nilai uang Anda.
2. Pendapatan penopang hidup
Kekhawatiran umum bagi orang yang ingin "memulai hidup baru" seperti di atas, termasuk soal pendapatan tetap. Tentu solusinya cuma satu: amankan pendapatan seumur hidup.
Masalahnya, dana yang ditanam pada asuransi pensiun misalnya, tidak bisa diakses setiap saat. Jika ditanam untuk cair usia 55 tahun, tidak bisa digunakan pada umur 40 tahun. Kecuali ingin kena denda. 
Solusinya? Siapkan tabungan atau simpanan, baik lewat asuransi maupun investasi, secara berjenjang. Pencairannya bertahap pada setiap periode-periode tertentu, misalnya setiap lima tahun. Tinggal pilih, bisa sejak usia 35 tahun atau 40 tahun.
3. Jaminan kesehatan
Selain soal dana tunjangan, masalah kesehatan tentu sangat penting di saat "gantung pekerjaan rutin" maupun pensiun dini. Pada usia pertengahan 20 tahun, belanja asuransi yang mengamankan kebutuhan jaminan kesehatan jangka panjang, bisa jadi pilihan bijak. Hal ini akan mampu mengurangi beban persiapan menyiapkan dana untuk berhenti menerima pendapatan rutin sebagai karyawan, maupun pensiun. Jaminan kesehatan yang disiapkan sejak dini untuk masa datang menjadi penting, mengingat: kondisi kesehatan akan mengalami penurunan pada usia lebih tua (diminishing), sementara ongkos kesehatan akan terus naik.
Dana yang disiapkan untuk kehidupan masa mendatang sebaiknya dipisahkan dari kebutuhan kesehatan. Beban tabungan atau investasi akan terlalu berat jika harus menggendong biaya untuk sehat kelak. Sudahkah siap pensiun dini? Entahlah, kata teman saya itu. Kelak kami akan berbincang lagi, mungkin tentang rencana pensiunnya dari rutinitas pada usia 40 tahun atau bisa juga ada rencana baru yang lain.

Alasan Karyawan tidak bisa naek Gaji

Tentunya setiap karyawan ingin segera dapat promosi jabatan. Namun ada beberapa hal yang menjadi kendala sehingga membuat para pekerja sulit meraihnya, meskipun mereka sudah bekerja keras. Dikutip dari wolipop, berikut ini beberapa alasan yang membuat tawaran kenaikan jabatan tak kunjung datang. 
Dianggap Belum Siap 
Setiap atasan di kantor tentunya akan melihat kinerja karyawannya. Mereka akan mengetahui kapan karyawannya tersebut siap untuk menerima tawaran kenaikan jabatan. Jadi bos Anda tak akan mau terlalu cepat untuk memberikan tawaran pada bawahannya yang belum siap, karena karyawan yang naik jabatan harus dipastikan sudah matang. 
Pekerjaan Belum Maksimal
Jika Anda merasa sudah melakukan pekerjaan dengan baik, coba pikirkan kembali, apakah hasil pekerjaan yang sudah dilakukan sudah maksimal? Tunjukkan kepada bos hasil pekerjaan yang di luar dugaan. Berilah ide yang tidak biasa, agar atasan bisa mempertimbangkan lagi untuk memberi Anda promosi jabatan. 
Posisi Belum Tersedia 
Terkadang posisi yang diinginkan belum ada atau tersedia. Jadi tidak mungkin Anda bisa mendapatkannya. Namun tak ada salahnya untuk tetap terus mencari tahu kapan posisi tersebut tersedia.
Tidak Ada Peningkatan 
Meskipun Anda sudah bertahun-tahun kerja di perusahaan tempat Anda bekerja, bukan berarti Anda bisa dengan mudah mendapatkan promosi jabatan. Atasan juga akan mempertimbangkan performa karyawannya apakah ada peningkatan hasil pekerjaan atau tidak. 
Masalah Gaji 
Kadangkala promosi jabatan tidak diimbangi dengan kenaikan gaji. Ada beberapa perusahaan yang suka menawarkan kenaikan jabatann tanpa adanya kenaikan gaji. 
Perilaku Buruk 
Perilaku Anda yang buruk di tempat kerja juga bisa menjadi alasan mengapa Anda tidak mendapatkan tawaran kenaikan jabatan. Jadi sebaiknya, mulai perhatikanlah perilaku Anda.

Tips Gagal dalam Melamar Pekerjaan

Gagal diterima kerja bukanlah akhir dari segalanya. Meskipun menyakitkan dan membuat Anda kecewa, namun ini adalah awal dari sebuah kesuksesan. Daripada merasa sakit hati, lebih baik lakukan empat hal ini, seperti dikutip dari wolipop.
Jangan Emosi
Ketika mengetahui bahwa Anda tidak diterima di kantor yang didambakan, janganlah langsung emosi ang pada akhirnya membuat Anda marah dan menjadi down. Hal ini justru hanya akan membuang tenaga dan merugikan diri sendiri. Oleh sebab itu, sebaiknya tariklah nafas dalam-dalam lalu buang perlahan, setelah itu yakinlah bahwa Anda akan mendapatkan pekerjaan di tempat lain yang lebih baik.
Berterima Kasih 
Hal terakhir yang baik dilakukan saat ditolak oleh perusahaan adalah dengan mengucapkan terima kasih. Perlu diingat, ucaplah secara tulus dan sopan. Tunjukkanlah profesionalitas Anda.
Minta Saran
Ada baiknya Anda meminta saran pada pihak perusahaan yang menolak Anda mengenai kriteria kandidat seperti apa yang bisa diterima di kantor tersebut. Sebab, ini akan menjadi pelajaran untuk Anda ke depannya jika ingin mlamar di perusahaan yang lainnya.
Tetap Jaga Komunikasi 
Meskipun merasa sakit hati karena ditolak untuk bekerja di kantor tersebut, Anda juga tetap harus bisa menjaga komunikasi dengan pihak perusahaan. Hal ini bisa menambah jaringan untuk mendapatkan informasi mengenai lowongan pekerjaan baru nantinya. Siapa tahu ketika ada lowongan lagi, Anda bisa diterima.

Tips Menemukan Ide Brilian saat Bekerja

Bekerja di bidang kreatif tentunya menuntut Anda untuk selalu memiliki ide yang segar dan brilian. Akan tetapi, terkadang Anda juga memiliki kendala untuk mendapatkannya. Namun jangan khawatir, situs Career Bliss memberikan beberapa cara yang membantu untuk mendapatkan inspirasi ide pada pekerjaan Anda. Yuk, simak tips dari wolipop di sini.
Brainstorm 
Jika Anda bekerja secara tim, Anda bisa melakukan brainstorm terlebih dahulu untuk memulai sebuah proyek. Kumpulkan ide dan pendapat dari tim Anda. Dengan cara ini, Anda bisa menemukan ide brilian yang bisa diterapkan pada proyek tersebut.
Catat & Gambarkan
Catatlah berbagai macam ide yang ada di kepala Anda. Tak peduli ide tersebut penting atau tidak, Anda perlu menuliskannya di buku agenda kerja. Dengan cara seperti ini, Anda bisa memilah-milah kembali mana ide yang paling brilian untuk bisa dikembangkan. Anda juga bisa membuat sketsa atau menggambar apa yang ada dipikiran. Cara tersebut juga terkadang bisa membantu Anda lebih memahami ide.
Lakukan Hal yang Baru
Mencari ide yang segar dan brilian tak hanya bisa dilakukan dengan cara serius saja. Anda bisa menemukannya dengan cara santai juga. Mendengarkan musik misalnya, atau membaca buku yang tadinya tidak menarik minat Anda. Biasanya cara tersebut mampu membantu Anda menemukan ide yang berbeda dari biasanya.
Jangan Diam Saja 
Saat merasa stuck dengan ide di kantor, jangan hanya diam saja. Anda bisa pergi ke luar kantor saat jam istirahat untuk sekadar menenangkan pikiran dan mencari udara segar. Cara ini bisa membantu Anda supaya lebih fokus, serta pikiran pun akan kembali fresh.
Kumpulkan Inspirasi 
Memiliki buku agenda atau notes merupakan hal yang penting untuk Anda. Dengan benda tersebut, Anda bisa menampung atau mengumpulkan berbagai macam inspirasi yang ada. Saat sedang tak ada ide, Anda bisa kembali membuka-buka untuk menemukan inspirasi.
Rileks
Bos maupun karyawan juga hanya manusia biasa yang bisa lelah kapan saja. Jika Anda di kantor merasa sangat lelah, ambilah waktu istirahat sejenak dan rileks. Daripada memaksakan diri dan otak Anda untuk berpikir terus-menerus. Sebab, ketika Anda sudah mengambil waktu untuk beristirahat dan rileks, Anda bisa kembali berpikir secara jernih saat mulai bekerja kembali.